— Anggota MPR RI Atalia Praratya menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Audiovisual FISIP UNPAR ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai dasar kebangsaan di tengah dinamika sosial dan perkembangan ruang digital yang semakin cepat.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan tersebut merupakan amanat konstitusional MPR RI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014. Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika disosialisasikan sebagai fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan generasi muda dan komunitas akademik.
Dalam sambutannya, Atalia Praratya menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Menurutnya, kampus merupakan ruang penting bagi lahirnya pemikiran kritis sekaligus tempat bertumbuhnya kesadaran kebangsaan.
“Mahasiswa adalah bagian dari generasi yang akan menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, pemahaman terhadap Pancasila, konstitusi, serta semangat kebinekaan menjadi bekal penting agar generasi muda mampu menjaga persatuan Indonesia di tengah berbagai dinamika sosial,” ujar Atalia, Senin (16/3/2026)
Ia juga menyoroti tantangan kebangsaan yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Arus informasi yang sangat cepat, menurutnya, sering kali memunculkan narasi yang dapat memecah belah masyarakat apabila tidak disikapi dengan pemahaman kebangsaan yang kuat.
Kegiatan ini menghadirkan Andreas Doweng Bolo, dosen filsafat UNPAR sekaligus Ketua Pusat Studi Pancasila UNPAR, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Andreas mengulas makna filosofis Pancasila serta relevansinya dalam menjawab tantangan kebangsaan di era modern.
Ia menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau simbol negara, melainkan kerangka nilai yang hidup dan harus terus diaktualisasikan dalam praktik kehidupan berbangsa.
Menurutnya, pemahaman yang mendalam terhadap Pancasila akan membantu generasi muda membangun sikap kritis sekaligus menjaga komitmen terhadap persatuan bangsa.
Diskusi dalam kegiatan ini dipandu oleh Mangadar Situmorang, dosen Hubungan Internasional UNPAR sekaligus Ketua Center for Human Development and Social Justice (CHuDS) UNPAR, yang bertindak sebagai moderator.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa terkait relevansi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan globalisasi, demokrasi, serta perkembangan ruang publik digital.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pandangan mengenai peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman sosial, budaya, dan agama di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, Atalia Praratya berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep Empat Pilar Kebangsaan secara akademik, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
“Mahasiswa memiliki energi, kreativitas, dan daya pengaruh yang besar. Jika nilai-nilai kebangsaan tertanam kuat, generasi muda dapat menjadi penggerak narasi kebangsaan yang positif, inklusif, dan mempersatukan,” tutup Atalia Praratya.
